Sabtu, 28 April 2018

KEPUTUSAN INOVASI



PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI
 Tipe keputusan inovasi yaitu tipe keputusan inovasi opsional, kolektif, otoritas dan kontigen.Tipe keputusan inovasi opsional banyak digunakan dalam proses difusi inovasi yang sasaran utamanya anggota sistem sosial sebagai individu (pribadi). Misalnya inovasi pertanian, kesehatan, kesejahteraan, dan sebagainya. Dengan inovasi itu diharapkan setiap individu akan menerima dan menerapkan inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Tipe keputusan inovasi kolektif, otoritas dan kontigen banyak digunakan dalam difusi inovasi yang sasaran utamanya individu sebagai anggota organisasi formal. Misalnya difusi inovasi pendidikan yang sasarannya sekolah-sekolah, dan perguruan tinggi, inovasi bidang pemerintahan, bidang politik, dan sebagainya.
Dalam pembahasan ini akan dibicarakan secara terinci proses keputusan inovasi opsional, yang menjadi dasar untuk memahami tipe keputusan inovasi yang lain. Pengertian proses keputusan inovasi, model proses keputusan inovasi, dan tahap-tahap proses keputusan inovasi.

1.      PENGERTIAN PROSES KEPUTUSAN INOVASI
Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) oleh individu (unit pengambilan keputusan yang lain), mulai dari pertama kali tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan sikap terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. Proses keputusan inovasi bukan kegiatan yang dapat berlangsung seketika, tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan ysng baru itu sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau menerima inovasi dan menerapkannya. Ciri pokok keputusan inovasi dan merupakan perbedaannya dengan tipe keputusan yang lain ialah dimulai dengan adanya ketidak tentuan (uncertainty) tentang sesuatu (inovasi).
Misalnya kita harus mengambil keputusan antara menghadiri rapat atau bermain olahraga, maka kita sudah tahu apa yang akan dilakukan jika olahraga begitu pula apa yang akan dilakukan jika menghadiri rapat. Rapat dan olahraga bukan hal yang baru. Pertimbangan dalam mengambil keputusan mana yang paling menguntungkan sesuai dengan kondisi saat itu. Keputusan ini bukan keputusan inovasi.
Tetapi jika kita harus mengambil keputusan untuk mengganti penggunaan kompor minyak dengan kompor gas, yang sebelumnya belum pernah tahu tentang kompor gas, maka keputusan ini adalah keputusan inovasi. Proses pengambilan keputusan mau atau tidak mau menggunakan kompor gas, dimulai dengan adanya serba ketidak tentuan tentang kompor gas. Masih terbuka berbagai alternatif, mungkin lebih bersih, lebih hemat, lebih tahan lama, tetapi juga mungkin berbahaya, dan sebagainya. Untuk sampai pada keputusan yang mantap menerima atau menolak kompor gas perlu iinformasi. Dengan kejelasan informasi akan mengurangi ketidak tentuan dan berani mengambil keputusan.

2.      MODEL PROSES KEPUTUSAN INOVASI
Menurut Rogers, proses keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap, (perhatikan bagan no. 4-1 hal. 89). Yaitu:
(1)   Tahap Pengetahuan (Knowledge), tahap ini berlangsung, bila seseorang atau unit pengambil keputusan yang lain, membuka diri terhadap adanya suatu inovasi serta ingin mengetahui bagaimana fungsi inovasi tersebut.

(2)   Tahap Bujukan (Persuasion), tahap ini berlangsung ketika seseorang atau unit pengambil keputusan yang lain, mulai membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi.

(3)   Tahap Keputusan (Decision), tahap ini berlangsung ketika seseorang atau unit pengambil keputusan yang lain, melakukan aktivitas yang mengarah kepenetapan untuk memutuskan menerima atau menolak inovasi.

(4)   Tahap Implementasi (Implementation), tahap ini berlangsung ketika seseorang atau unit pengambil keputusan yang lain, menerapkan atau menggunakan inovasi.

(5)   Tahap Konfirmasi (Confirmation), tahap ini berlangsung ketika seseorang atau unit pengambil keputusan yang lain, mencari penguatan terhadap keputusan inovasi yang telah dibuatnya. Pengambil keputusan dapat menarik kembali keputusannya jika ternyata diperoleh informasi tentang inovasi yang bertentangan dengan informasi yang diterima terdahulu.
 
   TAHAPAN PROSES KEPUTUSAN INOVASI
Setelah kita ketahui model proses keputusan inovasi yang menunjukkan urutan kelima tahap proses keputusan inovasi, maka berikut ini akan dijelaskan setiap tahap secara terinci.
(1)   Tahap Pengetahuan
Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan, yaitu tahap pada saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Pengertian menyadari dalam hal ini bukan memahami tetapi membuka diri untuk mengetahui inovasi.
Seseorang menyadari atau membuka diri terhadap suatu inovasi tentu dilakukan secara aktif  bukan secara pasif. Misalnya pada acara siaran televisi disebutkan berbagai macam acara, salah satu menyebutkan bahwa pada jam 19.30 akan ada siaran tentang metode baru cara mengajar berhitung di Taman Kanak-kanak. Guru A yang mendengar dan melihat acara tersebut kemudian sadar bahwa ada metode baru, serta membuka dirinya untuk mengetahui apa dan bagaimana metode tersebut, maka pada diri Guru A tersebut sudah mulai proses keputusan inovasi pada tahap pengetahuan. Sedangkan guru B walaupun mendengar dan melihat acara TV, tidak ada keinginan untuk tahu, maka belum terjadi proses keputusan inovasi. 
Seseorang menyadari perlunya mengetahui inovasi biasanya tentu berdasarkan pengamatannya tentang inovasi itu sesuai dengan kebutuhannya, minatnya atau mungkin juga kepercayaannya. Seperti contoh A tersebut, berarti ia ingin tahu metode baru berhitung karena ia memerlukannya. Adanya inovasi menumbuhkan kebutuhan, karena kebetulan ia merasa butuh. Tetapi mungkin juga terjadi bahwa karena seseorang butuh sesuatu maka untuk memenuhinya diadakan inovasi. Dalam kenyataan di masyarakat hal yang kedua ini jarang terjadi, karena banyak orang tidak tahu apa yang diperlukannya. Apalagi dalam bidang pendidikan, yang dapat merasakan perlunya ada perubahan biasanya orang yang ahli, sedang guru sendiri belum tentu mau menerima perubahan atau inovasi yang sebenarnya diperlukan untuk mengefektifkan pelaksanaan tugasnya. Sebagaimana halnya menurut dokter, kita perlu makan vitamin, tetapi kita tidak menginginkannya, dan sebaliknya sebenarnya kita ingin sate tetapi menurut dokter justru sate membahayakan kita.
Setelah seseorang menyadari adanya inovasi dan membuka dirinya untuk mengetahui inovasi, maka keaktifannya untuk memenuhi kebutuhan ingin tahu tentang inovasi itu bukan hanya berlangsung pada tahap pengetahuan saja tetapi juga pada tahap yang lain bahkan sampai tahap konfirmasi masih ada keinginan untuk mengetahui aspek-aspek tertentu dari inovasi.
Pada permulaannya ingin tahu tentang apa, mengapa dan bagaimana cara bekerjanya. Pada tahap persuasi biasanya ingin tahu lebih jauh lagi tentang bagaimana cara menggunakannya yang benar, syarat-syarat yang diperlukan dan sebagainya. Makin komplek suatu inovasi maka makin banyak dan komplek juga yang harus diketahui. Kemudian dapat berkembang lebih mendalami lagi yang ingin diketahui yaitu bagaimana prinsip-prinsip penggunaannya, dalam hal ini ada kaitannya dengan dasar teorinya. Makin jelas dan makin dalam seseorang mengetahui inovasi akan makin kuat landasan untuk menerima atau menolak suatu inovasi.
Berkaitan dengan pengetahuan tentang inovasi, ada generalisasi (prinsip-prinsip umum) tentang orang yang lebih awal mengetahui tentang inovasi;
(a)    Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi pendidikannya daripada yang akhir.
(b)   Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi status sosial ekonominya daripada yang akhir
(c)    Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap media massa daripada yang akhir.
(d)   Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap komunikasi interpersonal daripada yang akhir.
(e)    Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak kontak dengan agen pembaharu daripada yang akhir.
(f)    Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak berpartisipasi dalam sistem sosial daripada yang akhir.
(g)   Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih kosmopolitan daripada yang akhir.
                                   
Perlu diketahui juga bahwa tahu tentang inovasi tidak sama dengan melaksanakan atau menerapkan inovasi. Banyak orang yang tahu tetapi tidak melaksanakan, dengan berbagai kemungkinan penyebabnya.
Prinsip-prinsip umum atau generalisasi tersebut, umumnya berdasarkan penelitian inovasi di kalangan pertanian, apakah hal itu juga berlaku pada inovasi pendidikan? Coba perhatikan beberapa inovasi pendidikan di Indonesia dan coba dianalisis apakah menurut pengamatan anda generalisasi tersebut juga berlaku.
 (2)   Tahap Bujukan (Persuasi).
Pada tahap persuasi dari proses keputusan inovasi, seseorang membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi. Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama bidang kognitif, maka pada tahap persuasi yang berperan utama bidang afektif atau perasaan. Seseorang tidak dapat menyenangi inovasi sebelum ia tahu lebih dulu tentang inovasi.
Dalam tahap persuasi ini lebih banyak keaktifan mental yang memegang peran. Seseorang akan berusaha mengetahui lebih banyak tentang inovasi, dan menafsirkan informasi yang diterimanya. Pada tahap ini berlangsung seleksi informasi disesuaikan dengan kondisi dan sifat pribadinya. Di sinilah peranan karakteristik inovasi dalam mempengaruhi proses keputusan inovasi (perhatikan bagan 4-1).
Dalam tahap persuasi ini juga sangat penting peran kemampuan untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di masa datang. Perlu ada kemampuan untuk memproyeksikan penerapan inovasi dalam pemikiran berdasarkan kondisi dan situasi yang ada. Untuk mempermudah proses mental ini, perlu adanya gambaran yang jelas tentang bagaimana pelaksanaan inovasi, jika mungkin sampai pada konsekuensi inovasi.
Hasil dari tahap persuasi yang utama ialah adanya penentuan menyenangi atau tidak menyenangi inovasi. Diharapkan hasil tahap persuasi akan mengarahkan proses keputusan inovasi atau dengan kata lain ada kecenderungan kesesuaian antara menyenangi inovasi dan menerapkan inovasi. Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya antara sikap dan aktivitas masih ada jarak. Orang menyenangi inovasi belum tentu ia menerapkan inovasi. Ada jarak atau kesenjangan antara: pengetahuan, sikap dan penerapan (praktek). Misalnya seorang guru tahu tentang metode diskusi, tahu cara menggunakannya, dan senang seandainya menggunakan, tetapi ia tidak pernah menggunakan, karena beberapa faktor: tempat duduknya tidak memungkinkan, jumlah siswanya terlalu banyak, dan takut bahan pelajarannya tidak akan dapat disajikan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. Perlu ada bantuan pemecahan masalah.
Dalam penerapan inovasi ada pula yang disebut Preventive innovation (inovasi preventif) yaitu seseorang menerapkan inovasi karena ingin terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari. Misalnya keluarga berencana, penggunaan helm, mengikuti asuransi, dan sebagainya.

3)   Tahap Keputusan
Tahap keputusan dari proses keputusan inovasi, berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah untuk menetapkan menerima atau menolak inovasi. Menerima inovasi berarti sepenuhnya akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti tidak akan menerapkan inovasi.
Sering terjadi seseorang akan menerima inovasi setelah ia mencoba lebih dahulu. Bahkan jika mungkin mencoba sebagian kecil lebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan secara keseluruhan jika sudah terbukti berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi tidak semua inovasi dapat dicobadengan dipecah menjadi beberapa bagian. Inovasi yang dapat dicoba bagian demi bagian akan lebih cepat diterima.
Dapat juga terjadi percobaan cukup dilakukan sekelompok orang, dan yang lain cukup mempercayai dengan hasil percobaan temannya.
Perlu diperhatikan bahwa dalam kenyataannya pada setiap tahap dalam proses keputusan inovasi dapat terjadi penolakan inovasi. Misalnya penolakan dapat terjadi pada awal tahap pengetahuan, dapat juga terjadi pada tahap persuasi, mungkin juga terjadi setelah konfirmasi, dan sebagainya.

Ada dua macam penolakan inovasi yaitu:
(a)  Penolakan aktif artinya penolakan inovasi setelah melalui proses mempertimbangkan untuk menerima inovasi atau mungkin sudah mencoba lebih dahulu, tetapi keputusan akhir menolak inovasi.
(b)   Penolakan pasif artinya penolakan inovasi dengan tanpa pertimbangan sama sekali.

Dalam pelaksanaan difusi inovasi antara: pengetahuan, persuasi dan keputusan inovasi sering berjalan bersamaan. Satu dengan yang lain saling berkaiatan. Bahkan untuk jenis inovasi tertentu dan dalam kondisi tertentu dapat terjadi urutan: pengetahuan-keputusan inovasi-baru persuasi.

(4)   Tahap Implementasi
Tahap implementasi dari proses keputusan inovasi terjadi apabila seseorang menerapkan inovasi. Dalam tahap implementasi ini berlangsung keaktifan baik mental maupun perbuatan. Keputusan penerimaan gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktek. Pada umumnya implementasi tentu mengikuti hasil keputusan inovasi. Tetapi juga tejadi karena sesuatu hal sudah memutuskan menerima inovasi tidak diikuti implementasi. Biasanya hal ini terjadi karena fasilitas penerapan yang tidak tersedia.
Kapan tahap implementasi berakhir? Mungkin tahap ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama, tergantung dari keadaan inovasi itu sendiri. Tetapi biasanya suatu tanda bahwa taraf implementasi inovasi berakhir jika penerapan inovasi itu sudah melembaga atau sudah menjadi hal-hal yang bersifat rutin. Sudah tidak menerapkan hal yang baru lagi.
Dalam tahap implementasi dapat terjadi hal yang yang disebut Reinvention (invensi kembali) yaitu penerapan inovasi dengan mengadakan perubahan atau modifikasi. Jadi penerapan inovasi tetapi tidak sesuai dengan aslinya. Reinvensi bukan berarti tentu hal yang tidak baik, tetapi terjadinya re-invensi dapat merupakan kebijakan dalam pelaksanaan atau penerapan inovasi, dengan mengingat kondisi dan situasi yang ada.
Hal-hal yang memungkinkan terjadinya re-invensi antara lain: inovasi yang sangat komplek dan sukar dimengerti, penerima inovasi kurang dapat memahami inovasi karena sukar untuk menemui agen pembaharu, inovasi yang memungkinkan berbagai kemungkinan aplikasi, apabila inovasi diterapkan untuk memecahkan masalah yang sangat luas, kebanggaan akan inovasi yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu juga dapat menimbulkan re-invensi.

(5)   Tahap Konfirmasi
Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya, dan ia dapat menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula. Tahap konfirmasi ini sebenarnya berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi, yang berlangsung dalam waktu yang tak terbatas. Selama dalam tahap konfirmasi seseorang berusaha menghindari terjadinya disonansi atau paling tidak berusaha menguranginya.
Terjadinya perubahan tingkah laku seseorang antara lain disebabkan karena terjadinya ketidak seimbangan internal. Orang itu merasa dalam dirinya ada sesuatu yang tidak sesuai atau tidak selaras yang disebut disonansi, sehingga orang itu merasa tidak enak. Jika seseorang merasa dalam dirinya terjadi disonansi, maka ia akan berusaha untuk menghilangkannya atau paling tidak menguranginya dengan cara megubah pengetahuaannya. Dalam hubungannya dengan difusi inovasi, usaha mengurangi disonansi dapat terjadi:
(a)    Apabila seseorang menyadari akan sesuatu kebutuhan dan berusaha mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan misalnya dengan mencari informasi tentang inovasi. Hal ini terjadi pada tahap pengetahuan dalam proses keputusan inovasi.
(b)   Apabila seseorang tahu tentang inovasi dan telah bersikap menyenangi inovasi tersebut, tetapi belum menetapkan keputusan untuk menerima inovasi. Maka ia akan berusaha untuk menerimanya, guna mengurangi adanya disonansi antara apa tang disenangi dan diyakini dengan apa yang dilakukan. Hal ini terjadi pada tahap keputusan inovasi, dan tahap implementasi dalam proses keputusan inovasi.
(c)    Setelah seseorang menetapkan menerima dan menerapkan inovasi, kemudian diajak untuk menolaknya. Maka disonansi ini dapat dikurangi dengan cara tidak melanjutkan penerimaan dan penerapan inovasi (discontinuing). Ada kemungkinan lagi seseorang telah menetapkan untuk menolak inovasi, kemudian diajak untuk menerimanya. Maka usaha mengurangi disonansi dengan cara menerima inovasi (mengubah keputusan semula). Perubahan ini terjadi (tidak meneruskan inovasi atau mengikuti inovasi terlambat) pada tahap konfirmasi dari proses keputusan inovasi. (perhatikan bagan no. 4-1 hal 89).
Ketiga cara mengurangi disonansi tersebut, berkaitan dengan perubahan tingkah laku seseorang sehingga antara sikap, perasaan, pikiran, perbuatan sangat erat hubungannya bahkan sukar dipisahkan karena yang satu mempengaruhi yang lain. Sehingga dalam kenyataan kadang-kadang sukar orang akan mengubah keputusan yang sudah terlanjur mapan dan disenangi, walaupun secara rasional diketahui ada kelemahannya. Oleh karena sering terjadi untuk menghidari timbulnya disonansi, maka ia hanya berusaha mencari informasi yang dapat memperkuat keputusannya. Dengan kata lain orang itu melakukan seleksi informasi dalam tahap konfirmasi (selective exposure).
Untuk menghindari terjadinya drop out dalam penerimaan dan implementasi inovasi (discontinu) peranan agen pembaharu sangat dominan. Tanpa ada monitoring dan penguatan orang yang akan mudah terpengaruh pada informasi negatif tentang inovasi.
Demikianlah uraian kelima tahap dari proses keputusan inovasi opsional, yang terjadi pada individu atau unit pengambil keputusan. Proses ini terutama terjadi dalam proses difusi inovasi yang sasaran utamanya anggota sistem sosial secara pribadi (perorangan) bukan sebagai kesatuan organisasi. Misalnya dalam lapangan pertanian. Namun demikian dapat juga dipakai sebagai bahan pemikiran atau perbandingan dalam pelaksanaan difusi inovasi pendidikan, karena pola proses terjadinya perubahan pada tiap individu tetap sama. Misalnya untuk difusi inovasi pendidikan “penggunaan pendekatan ketrampilan proses dalam mengajar”, maka sasaran utamanya juga guru-guru. Hanya perbedaannya, kalau inovasi pertanian mungkin setiap petani dapat  membuat perbedaan keputusan ada yang menerima ada yang menolak. Kalau guru tentu semuanya menerima dan mau melaksanakan, karena terikat kedinasan, tetapi secara pribadi tetap dapat berlaku tahap-tahap proses keputusan inovasi seperti model yang telah kita pelajari.

SISTEM SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL



SISTEM SOSIAL
            Dalam  kehidupan kita haruslah saling berdampingan satu sama lainnya, memang mengingat dengan benar bahwa manusia dikodratkan sebagai makhluk sosial. Dari sini pula makhluk sosial terbentuk kedalam suatu sistem yang disebut dengan sistem sosial. Sistem yang ada pada sistem sosial bukan hanya membentuk suatu usaha yang berbentuk organisasi sosial, kesatuan sosial, atau kolektivitas sosial.
Akan tetapi sistem yang ada pada sistem sosial merupakan perpaduan serta kombinasi yang ada untuk diterapkan pada semua tingkatan organisasi sosial yang berbuntut ada bangsa ini sendiri.
Begitu banyak yang dibicarakan oleh teori sosial sebenarnya sangan berdampak pada kehidupan sosial sendiri. Karena sebuat tatanan yang ada pada sistem sosial akan menjadi tolak ukur terwujudnya proses sosial.
Pada sistem sosial tentu saja sangat berbeda jauh dengan sistem yang ada pada system atomic, system mokuler, atau system galatik. Hal ini dilihat dari pembentukan yang terjadi pada sistem sosial. Sistem sosial terbentuk karena usaha suatu kelompok orang tertentu, saling beriteraksi, serta mempengaruhi satu sama lain.
Pada sistem sosial sendiri dikenal beberapa teori sistem sosial, salah satunya ialah teori sosial  focal system. Teori tersebut pertama kali dikemukakan oleh Arthur Koestler mengemukakakan bahwa setiap kesatuan yang ada dan terjadi secara bersamaan merupakan satu kesatuan yang memilki bagian dari kesatuan yang lebih besar.
Sedangkan orang yang paling giat mengembangkan teori sistem adalah Niklas Luhman dan Kenneth Bailey. Akan tetapi sebelum keduanya Walter Buckley sudah lebih dulu mengungkapkan teorinya.
Menurut Buckley, ada beberapa manfaat menggunakan teori sistem, yakni:
  1. penerapannya bisa dilakukan pada perilaku sosial dan siste m sosial
  2. memilki skala subyektif
  3. keberagaman spek sosial selalu menjadi pembahasan inti
  4. Keseluruhan aspek dipandang dalam konteks proses khususnya terkait dengan jaringan informasi dan komunikasi
  5. Bersifat integratif

A.   PENGERTIAN SISTEM SOSIAL
Sistem sosial merupakan suatu sinergi antara berbagai subsistem sosial yang saling mengalami ketergantungan dan keterkaitan. (Teori Sibenertika Parson).

Sistem sosial sebagai suatu sistem yang hidup dan sistem kehidupan. Dapat juga ditinjau sebagai sistem buatan manusia diakrivitas berabtraksi yang menggambarkan sesuai dengan sifat organik. Dilihat dari sudut ekstensinya, sitem-sistem sosial itu hidup karena adanya transfer energi maupun adanya pertukaran informasi antar unsur (komponen) dan merupakan sistem terbuka.
Keseluruhan isi sistem-sistem sosial yang bersifat kongrit atau abstrak (kesadaran, persepsi, dll) merupakan karya maha pencipta, kemudian oleh manusia diubah, dikelola, diabstrasikan kembali dalam konsep-konsep menurut kebutuhannya sendiri.
Selain itu sistem sosial merupakan sejumlah kegiatan atau sejumlah orang yang hubungan timbal baliknya kurang lebih bersifat konstan.
  1. Dalam setiap sistem sosial ada sejumlah orang dan kegiatannya
  2. Orang-orang atau kegiatannya berhubungan secara timbal balik
  3. Hubungan yang bersifat timbal balik ini bersifat konstan.
–     sistem sosial bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya,
–     sistem sosial itu diciptakan oleh manusia, dipertahankan, dan malah diubah atau digantikan oleh manusia.
–     sistem sosial mempengaruhi perilaku manusia.
Memahami sistem sosial ialah proses belajar mengenali, menganalisis dan mempertimbangkan eksistensi dan perilaku organisasi dan institusi sosial kemasyarakatan dalam berbagai ranah kehidupan manusia. Peran manusia di sini lebih dilihat sebagai makhluk sosial dan bagian dari kelompok kepentingan, bukan sebagai individu. Ketika kita mengamati suatu fenomena sosial, maka sebenarnya kita sedang mencerna realitas kehidupan yang membawakan kondisi sistem masyarakat tertentu yang sedang bekerja, berusaha tetap langgeng, dan seringkali berbenturan dengan sistem-sistem lainnya. Sistem ini mencirikan karakteristik sifat, tata nilai, ukuran, kualitas dan kedudukan relasional di dalam dan antarsistem. Oleh karenanya, fenomena sosial pada hakikatnya adalah proses dialog, transaksi dan negosiasi sejumlah sistem sosial pada konteks waktu dan tempat tertentu.

B.   UNSUR-UNSUR SISTEM SOSIAL
ada 10 unsur sistem sosial:
1.    Keyakinan (pengetahuan)
2.    Perasaan (sentiment)
3.    Tujuan
4.    Norma
5.    Status dan peranan
6.    Tingkatan atau pangkat (rank)
7.    Kekuasaan atau pengaruh (power)
8.    Sanksi
9.    Sarana atau fasilitas
10. Tekanan ketegangaan (stress strain)

C.   FUNGSI SISTEM SOSIAL
Menurut ANkie M.M. Hoogvelt, ada 4 fungsi sistem sosial:
1.    Fungsi Adaptation (Adaptasi)
Sistem sosial harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi.
2.    Fungsi Goal Attainment (Pencapaian Tujuan Yang Diharapkan)
Tujuan individu harus menyesuaikan dengan tujuan sosial yang lebih besar agar tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan lingkungan sosial.
3.    Fungsi Integration (Integrasi/Kebersamaan)
Menunjukkan adanya solidaritas sosial dari bagian-bagian yang membentuknya serta berperannya masing-masing unsure tersebut sesuai dengan posisinya. Integrasi hanya bias terwujud jika semua unsure yang membentuk sistem tersebut saling menyesuaikan.
4.    Fungsi Latent Pattern Maintance (Pemeliharaan Pola Latent).

STRUKTUR SOSIAL
Struktur sosial berasal dari kata structum yang berarti menyusun, membangun untuk sebuah gedung dan lebih umum dipakai istilah konstruksi yang berari kerangka. Kata konstruksi memang tidak lazim untuk bangunan masyarakat, sebagai istilah ilmiah dipakai kata struktur sosial.

Pengertian struktur sosial menurut pendapat para ahli.

– Soerjono Soekanto: struktur sosial diartikan sebagai hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dan peranan-peranan sosial.

– E. R. Lanch: cita-cita tentang distribusi kekuasaan diantara individu dan kelompok sosial.

– Raymond Flirth: pergaulan hidup manusia meliputi berbagai tipe kelompok yang terjadi dari banyak orang dan meliputi pula lembaga-lembaga di mana orang banyak tersebut ambil bagian.

Dari definisi tersebut diatas disimpulkan bahwa struktur sosial merupakan tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat, yang di dalamnya terkandung hubungan timbal balik antara status dan peranan yang mengacu pada suatu keteraturan perilaku di dalam masyarakat
Dalam hal ini struktur sosial dapat horizontal maupun vertikal susunannnya.Contoh struktur sosial yang Horizontal adalah kelompok pria dan kelompok wanita, atau kelompok orang beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu. Cirinya masing-masing dalam kelompok tersebut tidak bertingkat, artinya di masyarakat kedudukannya sama. Sedangkan contoh Sruktur sosial yang vertikal adalah kelompok orang kaya dan kelompok orang miskin, hal ini jelas menunjukkan kedudukan yang berbeda dalam masyarakat.Orang kaya berada di tempat yang lebih tinggi daripada orang miskin.

Struktur sosial muncul karena adanya dua unsur berikut yaitu : 
  1. individu, dalam hal ini individu adalah sebagai pembentuk masyarakat sekaligus pembentuk struktur sosial, Jika tidak ada individu-individu maka tidak mungkin ada masyarakat
  2. interaksi, interaksi antar individu dalam masyarakat akan membentuk struktur sosial, tanpa adanya interaksi maka struktur sosial tidak mungkin terbentuk
Ciri-ciri Struktur Sosial :
Ciri-ciri struktur sosial secara umum:
a)      Bersifat abstrak, artinya tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba. Struktur sosial disini merupakan hierarki kedudukan dari tingkatan yang tertinggi sampai yang terendah, berfungsi sebagai saluran kekuasaan dan pengaturan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
b)      Terdapat dimensi vertikal dan horizontal, struktur sosial pada dimensi vertikal adalah hierarki status-status sosial dengan segala peranannya sehingga menjadi satu sistem yang tidak dapat dipisahkan dari struktur status yang tertinggi hingga struktur status yang terendah. Sedangkan pada struktur sosial yang memiliki dimensi harizontal, seluruh masyarakat berdasarkan karakteristiknya terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok sosial yang memiliki karakter sama.
c)      Sebagai landasan sebuah proses sosial suatu masyarakat, artinya proses sosial yang terjadi dalam suatu struktur sosial termasuk cepat lambatnya proses itu sendiri sangat dipengaruhi oleh bagaimana bentuk struktur sosialnya.
d)     Merupakan bagian dari sistem pengaturan tata kelakuan dan pola hubungan masyarakat, artinya struktur sosial yang dimiliki suatu masyarakat berfungsi untuk mengatur berbagai bentuk hubungan antarindividu di dalam masyarakat tersebut.
e)      Struktur sosial selalu berkembang dan dapat berubah, struktur sosial merupakan tahapan perubahan dan perkembangan masyarakat yang mengandung dua pengertian, yaitu dalam struktur sosial terdapat peranan yang bersifat empiris dalam proses perubahan dan perkembangan, serta dalam setiap perubahan dan perkembangan tersebut terdapat tahap perhentian stabilitas, keteraturan, dan integrasi sosial yang berkesinambungan, sebelum terancam proses ketidakpuasan dalam tubuh masyarakat. Pada ciri yang kelima ini dalam sosiologi sering digunakan untuk melukiskan keteraturan sosial atau keteraturan elemen-elemen dalam kehidupan masyarakat.

Fungsi Struktur Sosial ada 3 yaitu :
  1. Fungsi identitas, yaitu sebagai penegas identitas yang dimiliki suatu kelompok
  2. Fungsi kontrol yaitu untuk mengontrol individu yang berada dalam struktur sosial tertentu
  3. Fungsi pembelajaran, yaitu dengan adanya struktur sosial individu dapat belajar melalui interaksi yang terjadi di dalamnya



Tiga bentuk masyarakat berdasarkan ciri-ciri struktur sosial
Berikut ini adalah tiga bentuk masyarakat berdasarkan ciri-ciri struktur sosial dan budayanya seperti yang dikemukukan oleh Selo Soermardjan
a. Masyarakat sederhana, ciri-ciri struktur sosial dan budaya pada masyarakat sederhana adalah sebagai berikut:
1) Ikatan keluarga dan masyarakatnya sangat kuat.
2) Organisasi sosial berdasarkan tradisi turun-temurun.
3) Memiliki kepercayaan yang kuat terhadap kekuatan gaib.
4) Tidak memiliki lembaga-lembaga khusus, seperti lembaga pendidikan.
5) Hukum yang berlaku tidak tertulis.
6) Sebagain besar produksi hanya untuk keperluan keluarga sendiri atau untuk pasaran dalam skala kecil.
7) Kegiatan ekonomi dan sosial dilakukan secara gotong royong.

b. Masyarakata madya, ciri-ciri struktur sosial dan budaya pada masyarakat madya adalah sebagai berikut:
1) Ikatan keluarga masih kuat, tetapi hubungan dengan masyarakat setempat sudah mengendor.
2) Adat istiadat masih dihormati, tetapi mulai terbuka dengan pengaruh luar.
3) Timbulnya rasionalitas dalam cara berpikir sehingga kepercayaan-kepercayaan pada kekuasaan kekuatan gaib baru timbul apabila orang mulai kehabisan akal untuk menanggulangi suatu masalah.
4) Timbulnya lembaga-lembaga pendidikan formal sampai tingkat lanjutan.
5).    Hukum tertulis mulai mendampingi hukum tidak tertulis.
6) Memberi kesempatan pada produksi pasar sehingga muncul diferensiasi dalam struktur masyarakat.
7) Gotong royong hanya untuk keperluan di kalangan tetangga dan kerabat, sedangkan kegiatam ekonomi dilakukan atas dasar uang.

c. Masyarakat modern, ciri-ciri struktur sosial dan budaya masyarakat modern adalah sbegaia berikut ini:
1) Hubungan sosial didasarkan atas kepentingan pribadi.
2) Hubungan dengan masyarakat lainnya sudah terbuka dan saling mempengaruhi.
3) Kepercayaan terhadap ilmu kengatahuan dan teknologi sangat kuat.
4) Terdapat stratifikasi sosial atas dasar keahlian.
5) Tingkat pendidikan formal tinggi.
6) Hukum yang berlaku sudah hukum tertulis.
7) Ekonomi hampir seluruhnya merupakan ekonomi pasar yang didasarkan atas penggunaan uang dan alat pembayaran lain.

Opinion Leaders



Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam rangka melancarkan pelaksanaan pembangunan semua program-program dan proyek-proyek pembangunan yang dirancang secara nasional dan kedaerahan akhirnya bermuara atau dilaksanakan di daerah pedesaan. Oleh karena itu, diperlukan adanya hubungan serasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pembangunan desa perlu mendapatkan penanganan yang baik dan terpadu, mengingat mayoritas penduduk Indonesia berada di pedesaan, dengan demikian keberhasilan pembangunan di pedesaan akan menjadi tolak ukur berhasilnya pembangunan nasional.
Untuk melaksanakan pembangunan tersebut diperlukan adanya pengambilan keputusan yang terwadahi dalam suatu forum musyawarah desa yang melibatkan kepala desa, perangkat desa dan tokoh masyarakat yang mewakili warga desa sebagai pelaksanaan keputusan pembangunan. Keputusan yang dihasilkan di tingkat desa pada umumnya merupakan tindak lanjut dari keputusan pemerintah pusat dalam mengakomodasi dan mengalokasikan hasil keputusan tersebut.
Setiap keputusan yang diambil didahului dengan prosedur yang akhirnya sampai pada kenyataan bahwa keputusan itu penting untuk diambil. Sahnya keputusan sangat tergantung pada mereka yang berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yaitu siapa yang memprakarsai dan siapa yang terlibat dalam proses pengabsahan, sebab pengambilan keputusan masyarakat mencakup sebuah dimensi kekuasaan.

Pengertian “Opinion Leaders”
Pengertian “Opinion Leaders” adalah orang yang mempunyai pengaruh dan dihormati dilingkungan masyarakat, bisa karena kekayaan, pengetahuan, budi pekerti, atau kesuksesannya dalam menjalani kehidupan. Karena kebijaksanaan dan pengetahuannya seorang tokoh masyarakat bisa menjadi panutan bagi orang-orang.
  1. Peran “Opinion Leaders”
    1. Pemberdaya masyarakat
      • Berperan memotivasi masyarakat untuk mau dan mampu mengatasi masalahnya secara mandiri dengan melakukan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Penggali sumber daya
      • Diharapkan toma mampu menggali semua potensi yang ada di masyarakat baik materiil maupun non materiil yang dapat dimanfaatkan dalam peningkatan desa siaga aktif menuju masyarakat yang ber-PHBS.
  2. Fungsi “Opinion Leaders”
    • Menggali sumber daya untuk kelangsungan kegiatan
    • Menaungi dan membina kegiatan-kegiatan masyarakat
    • Menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan
    • Memberi dukungan dalam pengelolaan kegiatan
    • Menggkoordinir gerakan masyarakat agar mau memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan dan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM)
    • Memberi dukungan sarana dan prasarana
Fungsi “Opinion Leaders” sangat beragam kadang mencakup berbagai aspek. Seperti aspek sosial, aspek ekonomi, aspek pembangunan sarana dan prasarana, hingga aspek agama. Biasanya mereka ditunjuk sebagai tokoh masyarakat adalah orang-orang yang memegang kompoten dibidangnya, mimpuni secara intelektual, kaya akan gagasan, dan memiliki semangat mengadakan perubahan kearah yang lebih baik serta bisa merangkul banyak pihak untuk mewujudkan satu demi satu targetnya.
Aspek Sosial Ekonomi.
            Dalam aspek sosial, fungsi tokoh masyarakat terlihat manakala sosok panutan itu mampu merekatkan hubungan antar sesama masyarakat disuatu wilayah atau hubungan dengan masyarakat diluar wilayah tersebut. Terlebih masyarakat kita mudah disulut api provokasi yang dikobarkan satu atau sekelompok komunitas. Dalam hal ini tokoh masyarakat wajib memberikan pandangan dan menempatkan diri sebagai seorang yang mendamaikan dimanapu berada.
Fungsi dari tokoh masyarakat dalam bidang ekonomi dan pembangunan serta pemberdayaan masyarakat diantaranya menciptakan lahan-lahan ekonomi bagi masyarakat sekitar agar bisa mandiri dan berdaya guna serta mengarahkan masyarakat agar peduli pada pendidikan. Pemberdayaan ekonomi bisa dimulai dengan pembenyukan UMKM atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Dalam hal ini tidak hanya tokoh masyarakat, tetapi pemerintah pun harus turun tangan membantu. Sementara itu, pendidikan masyarakat harus diushakan. Jika belum mungkin memberikan pendidikan formal secara gratis, tokoh masyarakat dan segenap pihak terkait wajib menuangkan idenya agar pendidikan bisa dirasakan oleh semua warga
Aspek Agama
            Dalam aspek agama, fungsi tokoh masyarakat dalam menuangkan pikiran, tenaga dan meluangkan waktunya agar proses penyampaian agama bisa berjalan baik. Tokoh masyarakat juga perlu didukun dari pemerintah dan warga setempat. Pendirian rumah-rumah ibadah, even-even keagamaan dan pelaksanaan ibadah merupakan sorotan utama. Dan untuk lebih bisa mengoptimalkan semua pencapaian target itu, tokoh masyarakat juga bisa menggandeng media, baik yang berskala daerah maupun nasional untuk sosialisi keagamaan.